Farikhatul Ubudiyah Juara I Peksimida

Farikhatul ‘Ubudiyah, mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam semester 7, berhasil menyabet juara I Tangkai Lomba Penulisan Puisi dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) XIII Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Daerah Pengda Jawa Tengah di Kudus pada 27-28 Agustus 2016. Serta di dilanjutkan menjadi juara II Tangkai Lomba Penulisan Puisi dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XIII di Kendari, 11-17 Oktober 2016.

14591626_1777472565839685_3610943250229491894_n

Perempuan berkulit sawo matang ini, terlahir dari  pasangan Ibu Sofiyah dan Bapak Jamil. Dilahirkan di Banyumas, 21 Oktober 1995. Pendidikan formal ditempuhnya di RA Muslimat NU Karangsarisari, SD N Karangsari, MTs Ma’arif NU 1 Kembaran, MAN Purwokerto 1, dan saat ini sedang menyelesaikan program sarjana S1 Fakultas Dakwah jurusan Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Purwokerto.

Sejak kecil, dia memang sudah disuguhi buku bacaan oleh orang tuanya. Berawal dari itulah dia mulai gemar membaca dan mulai menulis buku diari sejak kelas 4 SD. Ketika ditanya apa isi buku diarinya, dia tertawa dengan tawa khasnya yang kekanak- kanakan. “Isinya ya curhatan anak-anak SD gitu.” Ujarnya.

Diakuinya, kesukaan terhadap dunia tulis menulis berkembang ketika di MA. Meskipun belum pernah mengikuti event menulis ketika duduk di bangku MA, tetapi perempuan penyuka segala warna ini merupakan pengisi mading yang aktif. Pengetahuan lebih dalam mengenai sastra didapatkannya ketika lulus dari MA. Di akhir tahun pelajaran, Farikh mendapat penghargaan sebagai peminjam buku terbanyak di perpustakan sekolahnya.

“Nggak tahu kenapa, aku suka aja pinjam buku, dibaca atau nggak dibaca ya yang penting pinjam aja dulu. Pokoknya di tas harus ada buku. Setiap minggu maksimal pinjam empat buku. Ya mungkin itu, jadi aku dapat penghargaan. Lucu sih sebenarnya.” Paparnya diiringi tawa kecil ketika ditanya bagaimana bisa meraih penghargaan peminjam buku terbanyak.

Uang pembinaan dari penghargaan tersebut dibelanjakan buku-buku sastra, apapun itu, yang penting terkait dengan sastra. Dari membaca buku-buku itulah, pengetahuannya bertambah. Bakat menulisnya semakin terasah bak pisau yang semakin tajam ketika dia duduk di bangku perkuliahan.

Berawal dari kewajiban menyelesaikan empat puisi yang harus mendapatkan acc dari dosen pengampunya, yaitu Abdul Wachid B.S, Farikh kebanjiran acc karena puisi-puisinya mendapatkan apresiasi dan pujian dari dosen yang biasa disapa Ayah Wachid itu.

Saat mengikuti lomba puisi dalam PEKSIMIDAXIII Jawa Tengah, ada hal yang sempat membuat Farikh panik, “Laptopnya tuh tiba- tiba nggak bisa di charge, terus ngedrop deh. Pertama negdrop pinjam cahrger ke peserta yang laptopnya sama kayak punyaku. Jam empat sore ngedrop lagi, padahal lagi ending, dan aku nggak bisa pinjam, soalnya yang lain udah pada keluar. Juri juga udah mulai mipil kasih nilai. Aku panik banget. Untung ada teman yang baik hati nolongin. Makasih banget deh buat dia.” jelas gadis yang bercita-cita menjadi dosen dan membuka usaha florish itu.

Diakuinya, bahwa dia sama sekali tidak menyangka puisi berjudul Surat Suratani Kepada Suradenta menjadi juara 1. Semua yang telah dilalui dalam berproses di dunia kepenulisan dan kepanikannya saat lomba, terbayar sudah dengan kemenangannya.

“Ya ini nggak lepas dari mereka, orang-orang yang udah dukung dan doain aku.” Ujarnya sambil tersenyum bahagia.

Leave a Reply