Pelancaran Buku Bersama (PBB) Penulis 6 Negara

Pelancaran buku bersama penulis enam negara yaitu Singapura, Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei dan Vietnam lahir dari ide seorang penulis Singapura Rohani Din. Rohani Din yang dikenali senusantara dengan panggilan Bunda Anie Din, mula gigih menulis pada tahun 1997, setelah bergelar nenek. Bermula dengan novek berjudul ‘Diari Bonda’ setebal 554 halaman. Buku itu berkali-kali diulang cetak dan menjadi ‘best sellers’. Di samping itu Bunda menulis cerpen, pantun, puisi, syair, dan lan-lain.

17191100_1851608115092796_8072021957100794553_n

Suasana Pelancaran buku bersama penulis enam negara

Kumpulan puisi sendiri, ‘Membilang Langkah’ diterbitkan pada tahun 2009. Disebabkan mendapat sambutan yang menggalakkan, Bunda mengumpul 100 puisi pada setiap buku sendiri. 100 yang pertama dalam buku Menjelang Ulang Tahun Kekasih 100 kedua dalam buku Salam Daun Tebu, 100 ketiga dalam buku Bahtera Besar Siapa Punya, 100 keempat dalam buku Rentas 3 Pulau, 100 kelima dalam buku Bersana Mas mencari Emas dan seterusnya sedang giat dikumpulkan. Sebelumnya sebuah kumpulan puisinya terbit dengan judul Membilang Langkah.

Puisi mengantar nobon ke luar negeri

Pembacaan Puisi oleh Nobon

Niat membantu siswa memiliki buku, walaupun antologi bersama terbetik pada tahun 2012. Ketika di Kota Jambi dalam Pertemuan Penyair Nusantara VI, Bunda terlihat beberapa siswa yang puisinya bagus-bagus, namun helaian kertas puisi itu hanya dikepilkan sahaja. Mereka tidak mempu mencetak buku sendiri. Lalu hasrat untuk menolong, diceritakan kepada suami. Suami hanya mengangguk. Menyuruh tidak, melarang pun bukan. Tanpa membuang masa, Bunda warwarkan hasrat di halaman FB pada bulan Februari 2013 – Siapa yang mahu membukukan puisi bersama Bunda Anie Din, dipersilakan? Maka ramailah yang menyahut. Bunda terima dengan senang hati. Siapa yang dahulu, didahulukan. Pada bulan Februari 2013 itu, Bunda mula kumpulkan dengan lima kuntum puisi setiap seorang. Hal ini dibawa berbincang dengan teman-teman setaman di Sngapura yang terdiri daripada Sdr Ciung Winara, Puan Kamaria Buang, Farida Taib, Nordita Taib dan Lyn Salleh. Pertemuan pertama berlangsung di Retoran McDonald’s Choa Chu Kang pada __ March 2013. Disusuli di beberapa tempat lagi, untuk sama-sama menyimak / mengedit. Berbagai judul difikirkan. Akhirnya kami sepakat menamakannya ‘Bebas Melata’ dengan membawa erti tiada sekatan, tiada kawalan, tiada batas sempadan, tidak berhalangan, dan tidak terhad. Kesimpulannya, penulis yang menyertai antologi ini tiada sekatan untuk bersama menulis dan menyertai pembukuan brsama dengan rela hati, kerana penulis tidak dibayar royalti. Penulis harus sama-sama mengeluarkan biaya sendiri dan tiada had jumlah buku maksimum yang perlu dibeli. Tujuan pembukuan ini hanyalah untuk membawa keluar karya ke luar lingkungan penulis-penulis. Sekurang-kurangnya ia tersebar ke negara-negara di Nusantara. Jika keluar dari negara Nusantara, itu lebih baik. Di samping itu, peserta yang bersama membukukan buku ini dapat menjalin silaturrahmi dari keikhlasan hati yang dalam dan murni sambil menatap karya-karya yang tertera di dalam buku itu.

Singapura

Nobon Tiba di Singapura

Lebih tepatnya 13 maret 2017 kemarin saya sampai di Singapura dan disambut hangat oleh bunda anie di bandara Changi. Setelah sejenak berbincang kami lamgsung menuju resort tempat saya akan menginap selama tinggal di Singapura. Sekilas tak jauh beda dengan Indonesia namun saya melihat hal berbeda dengan makananya. Sesampai di resort saya langsung merebahkan diri ke tempat tidur melepas lelah tubuh kala itu.

Waktu menunjukan pukul 04.00 seperti bisa saya mandi pagi (karena kebiasaan di pesantren). Disini saya merasa heran ketika waktu menunjukan pukul 04.30 belum ada yang bangun untuk melaksnakan shalat shubuh. Hingga bunda terbangun dan mengatakan jika waktu shubuh pukul 05.45. Saya baru tersadar jika saya berada di Singapura yang mempunyai selisih waktu dengna Indonesia.

Pukul 07.00 kami semua sarapan bergegas menuju bus untuk menuju POD National Library, Victoria Street Singapura. Saat perjalanan dari resort ke perpustakaan tersebut saya dan peserta yang lain saling sapa saling berkenalan. Saya kaget ternyata yang mengikuti acara ini bukan hanya kaum muda tapi usia lanjut pun ada. Terlebih ada salah satu Profesor dari Riau yang mengikuti acara ini. Selain itu banyak sekali peserta dari berbagai daerah semisal Surabaya, Madura, Bekasi, Ciamis dan lain sebagainya. Menambah keakraban kami para penulis di negeri singa.

Sesampainya di perpustakaan saya dan teman penulis lainya tak sempat mengabadikan gambar di depan pintu perpustakaan. Kami diperkenankan untuk menuju lif karena acara inti akan diadakan di lantai 20. Begitu megah perpustakaan ini dengan interior yang mewah dan canggih. Acara inti pada hari itu adalah peluncuran buku bersama sembari dengan seminar sastra. Tiap penulis atau penyair diperkenankan membacakan karyanya. Yang saya tangkap dari hasil seminar adalah bagaimana kita semua yang berumpun melayu agar memperhankan bahasa melayu dan ciri khas orang melayu tersebab perkembangan zaman menjadikan budaya melayu mulai hilang terkhusus di Singapura. Maka dari itu para keturunan melayu mereka menjadikan sastra sebagi tameng agar budaya melayu tak lekang oleh zaman dengan mengadakan pertemuan penulis 6 negara ini. Karena isu sosial yang kuat akan pergulatan warga asli dan pendatang di singapura sedang ramai diperbincangkan. Pada keputusan akhir dari seminar tersebut adalah bahwa kegiatan semacam ini harus terus ada dengan seleksi naskah yang lebih ketat agar karya yang dihasilkan bermutu serta kesadaran akan budaya menghegemoni pada tiap individu agar perdaban melayu selalu ada.

Bendera IAIN Berkibar di Singapura

Partisipasi Mahasiswa IAIN Purwokerto di Singapura

Hal unik dari singapura yang bisa saya tangkap  ialah awalnya negara kecil miskin hingga akhirnya menjadi negara maju sampai saat ini. Karena banyakanya penduduk yang terus bertambah maka reklamasipun dilakukan untuk menunjang sumber daya yang ada.

17264625_1851604701759804_7274640875495377976_n

Peserta Pelancaran buku bersama

Di Singapura saya mengenal banyak kultur yang ada menjadi satu. Terlebih ketika saya memasuki taman raksasa di sana. Dimana didalamnya terdapat beraneka ragam bunga yang ada di dunia. Semacam ac raksasa suasananya begitu dingin di dalamnya. Tidak sah bila saya tak berkinjung di marina bay. Marina Bay Sands adalah pusat hiburan terpadu, menghadap ke Teluk Marina di Singapura. Dikembangkan oleh Las Vegas Sands, dan merupakan investasi tunggal paling mahal di dunia dengan biaya S$8 miliar (sekitar Rp.56 triliun), termasuk biaya untuk lahannya, sungguh fantastis bukan tempat ini. Tak lupa saya mengunjungi merlion ikon Singapura. Merlion adalah patung yang berkepala singa dengan badan seperti ikan. Namanya merupakan gabungan dari ikan duyung dan singa. Merlion merupakan makhluk berkepala singa dan bertubuh ikan ini mengingatkan akan kisah tentang Sang Nila Utama yang legendaris, yang melihat seekor singa selagi berburu di sebuah pulau, dalam perjalanannya ke Malaka. Pulau itu belakangan dikenal sebagai pelabuhan Temasek, yang kemudian menjadi Singapura dari legendanya.

Itulah sebagian kecil kisah saya selama di sinagpura, negeri kecil namun bisa melampui indonesia dalam perindustrian dan perdagangan.

 


Nobon Aditya Wibowo

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dakwah

Leave a Reply