Semarak Ramadhan HMJ Pengembangan Masyarakat Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Gerakan kristenisasi ialah kegiatan mengkristenkan orang secara besar-besaran dengan segala daya upaya yang mungkin agar adat dan pergaulan dalam masyarakat mencerminkan ajaran agama Kristen. Kristenisasi tidak hanya dilancarkan terhadap orang-orang yang belum memeluk agama atau mereka yang memeluk agama animisme saja, tetapi juga ditujukan terhadap orang yang telah memeluk agama Islam. Usaha Kristenisasi selalu dilakukan dengan segala daya upaya, biaya peralatan yang lengkap, rencana yang masak, tehnik yang tinggi, kemauan dan kesungguhan yang mantap dan kuat, keyakinan yang mendalam serta melalui segala jalan dan saluran yang meresap dalam hampir semua aspek kehidupan manusia: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, politik dan segala macam hiburan.

            Berkaitan dengan kristenisasi, Desa Suro kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Di kabarkan merupakan daerah yang menjadi daerah zona merah kristenisasi. Daerah itu dikabarkan sudah banyak yang terpengaruh dan menjadikan beralihnya dari agama Islam ke agama kristen, sangat ironis sekali bukan. Berkaitan dengan hal tersebut kami selaku Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Puwokerto merasa prihatin dengan adanya hal tersebut maka dari itu kami Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pengembangan Masyarakat Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto melakukan kunjunagn ke Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, pada hari Minggu 15 April 2018. HMJ yang baru berdiri 2 tahun ini menapaki dunia sosial dengan cara terjun langsung ke masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada pada masyarakat. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk program kerja dari kepengurusan HMJ Pengembangan masyarakat departemen Sosial kemasyarakatan.

Kunjungan yang dilakukan oleh Khoerul Irfan Prasetyo selaku Ketua HMJ PMS didampingi oleh wakilnya yaitu Khusnul Riski Silfani ini dibimbing langsung oleh Kepala Jurusan Pengembangan Masyarakat Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto Dr. Nawawi, S. Ag., M. Hum. Selain itu, juga hadir Januar Eko Nuramadana selaku kordinator departemen Sosial Kemasyarakatan. Nawawi yang pernah mengangkat tradisi Bonokeling sebagai Islam sebagai kepercayaan di Kabupaten Banyumas diharapkan dapat memberikan gambaran kepada Mahasiswa saat melakukan kunjungan untuk observasi awal program mereka. Nawawi mengatakan, butuh pendekatan khusus untuk daapat mengungkap permasalahan sosial di Masyarakat. Kunjungan ini dilatar belakangi karena kecemasan mahasiswa PMI dengan gencarnya program kristenisasi yang ada di daerah Kalibagor tepatnya di Desa Suro. Sebagai salah satu Instasi Agama Islam yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat, mahasiswa PMI merasa tergugah untuk bisa terjun langsung ke Kalibagor untuk berdakwah dan mengembalikan Islam di Daerah tersebut.

Observasi pertama oleh rombongan HMJ PMS menuju salah satu rumah warga desa Suro Rt. 04/01 yaitu rumahnya bapak Liwon, yang menurut informasi merupakan mualaf yang dahulunya beragama Islam namun karena faktor ekonomi keluarganaya, dengan alih iming-iming sembako menyebabkan bapak Liwon beralih agama ke Kristen. Namun, kepercayaan beliau kembali ke Islam setelah Dewan dakwah Banyumas melakukan bedah rumah beliau yang pada saat itu sangat memperhatinkan dan tidak layak huni, dan faktor anaknya yang nyantri disalah satu pondok pesantren di Purwokerto menjadikan Pak Liwon kembali ke Islam.

Setelah berbincang banyak dengan keluarga bapak liwon Irfan dan kawan-kawan mendapatkan banyak sekali informasi terkait kondisi masyarakat setemmpat. Selanjutnya kami berkunjung ke rumahnya bapak sarkam selaku tokoh masyarakat disitu juga menjabat  sebagai ketua pimpinan ranting Muhamadiyah desa Suro dan juga sebagai pejabat di pemerintahan di kecamatan kalibagor.  Beliau adalah orang yang berpengaruh dalam pembangunan di desa suro. Dari pemaparan bapak sarkam irfan mendapatkan informasi bahwasannya yang tidak kalah penting dan menarik terkait kristenisasi yang ada di desa suro. Sarkam mengatakan bahwa kristenisasi yang berada di desa suro masih berjalan aktif, salah satunya dengan adanya kegiatan yang berada di area gereja. Kegiatan ini dilakukan agar mendapatkan perhatian dari masyarakat sekitar, seperti senam di setiap minggu sore, yang mengakibatkan masyarakat islam datang ke gereja tidak menggunakan jilbab guna untuk mengikuti senam aerobik, ada juga Posyandu, periksa kesehatan geratis, bagi-bagi sembako murah dan lain sebaginya. Yang lebih memprihatinkan lagi masjid-masjid di desa suro menjadi sepi dan tidak ada yang aktif dalam keagamaan karena tidak ada ustadz atau tenaga pengajar, tambah pak sarkam.

Observasi dengan Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat

Dari informasi tersebut di atas, Nawawi mengharapkan HMJ PMS, khususnya departemen sosial kemasyarakatan bisa membuat program untuk membantu penanggulangan masalah tersebut. Harapannya, kegiatan pengembangan msyarakat akan di fokuskan desa suro kecamatan kalibagor kabupaten banyumas, melalui kegiatan sosial, rangkaina kegiatan keagamaan dan kegiatan lainnya. Diharapkan ada perogram berkelanjutan untuk mengembalikan kejayaan islam melalui syiar dakwah dan pengembangan masyarakat yang di mulai oleh HMJ PMS Fakultas dakwah IAIN Purwokerto.

Dengan informasi yang didapatkan dari observasi yang pertama dan arahan langsung oleh kepala jurusan bapak nawawi, HMJ PMS langsung bertindak cepat dan langsung merumusakn rencana guna untuk observasi yang kedua, 1 minggu kemudian Irfan dkk melakukan kunjungan yang kedua ke rumahnya bapak sarkam guna mencari informasi yang lebih dalam terkait kondisi masyarakat desa suro. Di kunjungan yang kedua tepatnya di hari minggu 22 April 2018, irfan dan kawan-kawan mengajukan beberapa pertanyaan kepada bapak sarkam. Dari pertanyaan tersebut didapatkan informasi bahwasaannya kristenisasi itu kuat di Rt 02 rw 1 di situ terdapat 2 greja dan terdapat 3 masjid, baitul arqom, umar bin khotob dan al khoir. Dari ketiga masjid tersebut belum adanya kegiatan keagamaan sperti TPQ, pengajian atau yang lainnya.

Berangkat dari hal itu, masih aktifnya kristenisai di desa Suro menjadikan persoalan pelik tersendiri dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman baik secara komprehensif dan masif melalui dakwah Islam  pada masyarakat desa Suro. Walaupun Sulit, disisi lain kegiatan HMJ Pengembangan Masyarakat dalam berdakwah  merupakan upaya proses rekontruksi dan revitalisasi dalam rangka merawat tradisi dan budaya agar selaras dengan nilai-nilai ke Islaman terkhusus untuk menangkal kristenisasi di Suro.

Kontruksi Psikologis

            Inti dari dakwah yang dilakukan Mahasiswa dalam berdakwah di Suro adalah mengajak seseorang, atau mempengaruhi seseorang agar mereka mau memenuhi ajakan ulama atau tokoh Agama yang berada di Desa Suro. Maka dari Itu guna mensukseskan dakwahnya Mahasiswa Pengembangan masyarakat melakukan berbagai rangkaian kegiatan dan kebetulan pada saat itu di bulan suci Ramadhan yang di bungkus dalam kegiatan yang diberi nama “Semarak Ramadhan”.  dengan tema “Sucikan diri dengan indahnya berbagi”

Adapun kegiatan selama 9 hari disana diantaranya adalah:

Semarak Lomba
  1. Pengajaran sekaligus pembuatan TPQ di 3 masjid selama 1 minggu dari tanggal 14-20 mei 2018. Kami memberi nama sesuai dengan nama masjid yang ketempatan, yaitu masjid umar bin khottob di buat TPQ Umar bin  khotob, masjid baitul arqom dengan nama TPQ  Baitul Arqom, masjid Al-khoir juga dengan TPQ Al-Khoir. Pengajaran yang dilakukan Mahasiswa berupa Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) Praktek Pengamalan Islam yang meliputi praktik Wudlu, Sholat, Hafalan Surat Pendek (Juz ‘Ama)
  2. Perlombaan antar TPQ di desa Suro bertempat di masjid Al-Khoir pada tanggal 19 Mei 2018. Di ikuti oleh 5 TPQ  yaitu TPQ Az- Zuhriyah, TPQ Umar Bin Khotob, TPQ Al- khoir, TPQ baitul arqom. Adapun yang dilombakan adalah sesuatu yang telah mereka dapatkan dari mahasiswa saat pembelajaran meliputi:
  3. Lomba adzan
  4. Lomba Hafalan Surat Pendek
  5. Cerdas Cermat Keislaman

Dari perlombaan itu di harapkan bisa menjadikan hiroh kesemangatan baru bagi anak-anak di Desa Suro dalam proses pembelajaran di TPQ.

  • Diklat TPQ oleh bapak H. Sudarman S. Ag. Selaku mantan ketua diklat TPQ Provinsi Jawa Tengah juga Ta’mir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto di masjid al-Istiqomah RW. 02, pada tanggal 16 Mei  2018. Sasarannya adalah masyarakat desa Suro yang mempunyai kemampuan keagamaan yang memungkinkan untuk mengajar di TPQ. Guna pembekalan cara mengondisikan anak-anak saat pengajaran, pemberian materi-materi apa saja yang seharusnya di sampaikan kepada santri di TPQ, supaya setelah di tinggalkan oleh mahasiswa kegiatan belajar mengajar di TPQ tetap berjalan.
  • Pengajian sekaligus buka puasa bersama yang di isi oleh Dewan dakwah Banyumas juga sebagai Dosen di Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto Dr. H. Abdul Basit, M.Ag. pada tanggal 19 Mei 2018 di masjid Al-Khoir. Dengan harapan setelah adanya buka puasa bersama masyarakat yang khususnya berada dilingkungan masjid al-Khoir, se engganya jadi menginjakan kakinya di masjid dan penguatan aqidah melalui tausiyah yang di isi oleh dewan dakwah Banyumas.
  • Bakti Sosial berupa baju layak pakai beserta Mushaf Al Qur’an sebanyak 20 Mushaf dan 20 Iqra. Dalam kegiatan bakos ini mahasiswa menyalurkan dari para partisipasi masyarakat yang ingin menyedekahkan baik berupa uang, baju layak pakai ataupun yang laiinya. Mengenalkan bahwa agama Islam punya konsep peduli kepada sesama.
  • Pengajian menjelang buka puasa, bersama dengan mualaf Suro di masjid baitul arqom,  dan jama’ah masjidnya di  isi oleh Ustdz Abu Hasan dari Sokaraja selaku pengajar di yayasan an-naba. Disitu juga sekalian penyaluran mushaf al-quran sebanyak 100 mushaf dari Wesel TV Jakarta. Dalam acara ini bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa   (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam dalam proses peliputan dan wawancara dengan mualaf.
  • Menjalin komunikasi dengan baik dengan tokoh masyarakat desa Suro, sehingga setelah kegiatan masih terjalin silaturahmi dan masih adanya pengawasan dan pengontrolan oleh mahasiswa terhadap warga desa Suro.
Peserta Semarak Ramadhan

Dengan kegiatan seperti itu Mudah-Mudahan bisa mengembalikan, serta menguatkan nilai-nilai ke-Islaman didalam kehidupan masyarakat desa Suro.

Leave a Reply