Hadiri Diskusi LPM SAKA, Aiman Witjaksono Bahas Jurnalistik Televisi

Buletin Fakultas Dakwah

Purwokerto – Jurnalis Kompas TV Aiman Witjaksono hadir dalam diskusi Jurnalistik secara daring yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Saka bertajuk “ Tantangan Jurnalis Televisi”, Sabtu (3/4/2021). Aiman menyoroti banyaknya pemberitaan yang mendahulukan kecepatan tanpa pendalaman fakta.

Selain banyak mendahulukan kecepatan, keadaan diperparah dengan berkembangnya media social dan fenomena citizen journalism. Audiens kini mampu memproduksi sekaligus mendistribusikan konten melalui berbagai kanal. Padahal banyak di antara mereka tidak dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman jurnalistik yang cukup.

Ketika proses jurnalistik seperti mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyiarkan gagasan serta informasi tidak dilakukan dengan tepat, maka ujung-ujungnya adalah pemberitaan yang kurang akurat dan malah menyesatkan masyarakat.               

“Lebih baik terlambat sedikit tetapi benar, daripada cepat tapi salah”, tutur Aiman.

Kualifikasi TV Anchor dan Konten

Selama 20 tahun, Aiman Witjaksono pernah berkarier sebagai TV Anchor di RCTI dan TVRI serta program jurnalistik investigasi “Aiman” Kompas TV. Menurutnya banyak sekali anak muda yang ingin berkarier menjadi TV anchor dan merasa kurang berkenan ketika menjadi reporter di lapangan. Padahal, expertise yang didapat sebagai reporter tidak kalah di banding jurnalis yang bekerja di dalam studio.

“Memang ada kualifikasi terkait dengan suara dan penampilan reporter. Hal tersebut dilakukan agar inti pemberitaan sampai ke masyarakat dengan efektif, bukan malah gagal focus ke reporternya,” tutur Aiman.

Selain itu, Aiman menjelaskan untuk melakukan sebuah jurnalisme investasi maka dibutuhkan riset yang kuat karena wartawan akan berjalan sendiri dengan berbagai resiko yang harus siap ditanggung.

“Biasanya mereka yang melakukan jurnalisme investasi adalah wartawan dengan jam terbang sudah di atas rata-rata. Kenapa demikian? Karena kalau wartawan yang baru, dia tidak bisa mengumpulkan informasi secara bulat. Padahal kasus-kasus dalam jurnalisme investigasi biasanya tidak berdiri sendiri,” jelasnya.

Untuk itu Aiman berpesan agar mahasiswa terus mengasah kemampuan serta kreativitasnya sehingga menghadirkan konten – konten alternative yang justru memiliki peluang di mata masyarakat dan bukan hanya meniru konten dari media mainstream. (Ulfa)